Menu Utama  l  Kumpulan Berita  l  Link Kampus  l  Foto Kampus

 

         

Kunjungan Studi Komparatif  ke UGM dan Makam Pak Harto

 

   

 

03 Mei 2008, MT Admin

MAKAM mantan Presiden Rl, Soeharto menjadi 'berkah' bagi masyarakat,    khususnya warga desa yang berada di Kabupaten Karanganyer Jawa Tengah
Makam Soeharto, tidaklah semewah makam tokoh-tokoh terkenal lainnya yang dikelilingi beton yang kuat atau dihiasi permata.

Makam Soeharto yang dilahirkan di Kemusuk, 8 Juni 1921 atau bertepatan 1 Syawal 1340 H, lebih tepat disebut makam keluarga, karena memang disana terdapat makam keluarga dari Ibu Tien Soeharto, istri sekaligus ibu negara yang telah dahulu wafat.

Jenderal besar (Purn) H. Muhammad Soeharto bin Pandjang Alias Kertosudiro bin Kertoirono, yang wafat pada Minggu  27 Januari 2008 atau tepatnya 18 Muharram 1429 H di RS Pertamina Jakarta, dimakamkan diantara keluarganya yang telah dahulu meninggal dunia.

Kalau emas memang emas dimanapun diletakkan, Soeharto, memang telah memberikan emas kepada bangsa ini meski tidak sedikit anak bangsa ini yang menghujatnya. Tetapi, apapun dia, terus saja memberikan berkah bagi masyarakat . Makamnya kini menjadi tempat mencari nafkah puluhan bahkan ratusan orang yang berjualan pernak-pernik maupun asesoris untuk kado ataupun cenderamata.

Pedagang disana umumnya ibu-ibu dan anak-anak belasan tahun yang mencari nafkah sepulang sekolah. Mereka tidak pernah memaksa pembeli, tetapi dengan senyum dan tegur sapa yang penuh keramahtamahan sebagai ciri khas orang Jawa. membuat pengunjung tidak keberatan mengeluarkan kocek membeli semua benda yang dijual murah dan bernilai budaya yang tinggi.

Sekali waktu, rombongan Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah Medan, dipimpin Rektornya yang putri kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, Dr.Hj. Sri Sulistyawati SH, Msi bersama rombongan Komisi A dan Komisi D DPRD Kota Medan dipimpin Ketuanya Hardi Mulyono, SE dan Sabar Sitepu, yang kebetulan melakukan kunjungan studi banding di Jawa Tengah dan Yogyakarta juga menyempatkan diri berkunjung ke makam 'Pak Harto'

Tidak ada hal yang istimewa, tetapi pengunjung mendapat kesempatan berdoa di makam pemimpin bangsa. yang terdapat dalam gedung bernama 'Astana Giri Bangun'. Makam Pak Harto belum disentuh bangunan apapun dan masih berlandaskan tanah dan ditaburi macam-macam bunga, dengan dua batu nisan yang masing-masing berukuran 30 centimeter.

Rombongan diterima penunggu makam, bernama ‘Pak Sukirno' yang telah mengabdikan diri untuk makam keluarga kesunanan Solo itu sejak tahun 1974. Ini adalah makam keluarga Bu Tien yang masih 'berdarah biru' atau keturunan raja-raja Solo, Jawa Tengah.

Selesai melakukan doa bersama dipimpin ustadz Anwar Sadad S.Ag, M. Hum dari UMN Al-Washliyah, rombongan pun mendapat penjelasan soal sejarah makam yang berada di atas perbukitan, di atas puncak bukit yang puncaknya dipotong sepanjang 17 meter. Disinilah jederal besar yang telah 'menggulung habis' PKI di Indonesia ini diistirahatkan.

Kepada wartawan Medan Pos, Drs. Baringin Pulungan yang kebetulan mengikuti berbagai rangkaian kegiatan rombongan UMN Al-Washliyah, yang juga diikuti PR-I Drs. Ridwanto M.Si dan PR-III Drs.H. Kondar Siregar mendapat penjelasan bahwa makam yang hanya berukuran 20x20 meter itu hanya dijaga sekitar sepuluh warga sipil dan militer.

Jadi, cukup sederhana, tidak berlebihan ,”ujar Rektor UMN, DR. Hj. Sri Sulistyawati, Sh, M.Si yang saat itu juga  ditemani Kapuslit Drs. H. Zuberuddin Siregar MM. Ka PPM Dr. Ahmad Laut Hasibuan MPd, Dekan FKIP UMN, Drs. Ulian Barus, M.Pd, PD-I FKIP Drs. Azhar, Dekan Pertanian Ir. Ernita MP Dekan F Hukum Nelvitia Purba SH. M.Pd, Dekan FMIPA Farmasi Dr. Pandapotan Nasution MPs. Apt dan Kahumas Zulkarnain Lubis M.Si.

Menurut Sri. Pak Harto adalah mantan pejuang bangsa yang harus terus diingat oleh bangsa ini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Soeharto telah menitikkan sebuah landasan penting dan berarti untuk berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Terlepas beliau memiliki salah, itu adalah bentuk manusiawinya beliau. Bangsa ini tentu harus memaafkannya. Tetapi, jasa yang beliau berikan sebagai bentuk pengabdiannya sebagai abdi bangsa ini, harus terus dikenang dan dijadikan landasan buat pembangunan bangsa ke depan," ujarnya.

 

 

Pencarian :