|
01
Oktober 2007,
MT Admin
Marhaban ya
Ramadhan…, dengan datangnya Bulan Ramadhan diharapkan
terbukanya pintu ampunan dan taubat. Begitulah harapan hampir
seluruh umat muslim yang melaksanakan ibadah puasa di Bulan
Ramadhan. Harapan itu juga merupakan harapan dari sebagian
besar penghuni Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Wanita Tanjung
Gusta untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT dan juga
harapan untuk mendapatkan remisi(pengurangan hukuman).
Sejumlah 407
anggota lapas dan 10 bayi yang berada di Lapas Wanita Tanjung
Gusta, Minggu, 30 September 2007 dikunjungi oleh Tim Gebyar
Ramadhan (yang diketuai oleh Ir. Zulkarnain Lubis, M.Si) dari
UMN Al-Washliyah yang bekerjasama dengan Ikatan Alumni UMN Al-Washliyah
dan PT. Deltomet (Jakarta). Pada kesempatan tersebut Rombongan
Gebyar Ramadhan UMN Al-Washliyah dipimpin oleh Rektor UMN Al-Washliyah
yang juga dihadiri oleh Presiden Direktur PT. Deltomed
(Jakarta), Nyoto Darwoyo, Ketua Ikatan Alumni UMN Al-Washliyah,
Hardi Mulyono, SE, Ibu Ambar Pratiwi Ningrum dari UGM, Mas
Agung Prawoto dari TVRI Jakarta dan yang bertindak sebagai
penceramah pada kesempatan tersebut Ibu Hj. Marijah Dalimunthe.
Kepala Lembaga
Pemasyarakatan Wanita Tanjung Gusta, Marti Ningsih, memberikan
sedikti gambaran mengenai keberadaan Lapas Wanita Tanjung
Gusta yang sekarang memiliki binaan/napi sebanyak 407 orang.
Jumlah ini sangat tidak memadai jika dibandingkan dengan
jumlah ruangan/sel yang ada. Sewajarnya dengan jumlah ruangan/sel
yang ada sekarang ini (28 ruangan/sel) Lapas hanya menampung
sejumlah 150 orang saja. Namun karena keterbatasan ruangan/sel
dan jumlah napi yang membludak maka satu rungan/sel harus
menampung 14-15 orang dengan ukuran ruangan /sel 5x6 meter.
Marti Ningsih selaku Kepala Lapaz juga memberikan motivasi dan
dorongan moral kepada binaannya supaya dalam melaksanakan
ibadah puasa harus benar-benar khusuk dan jangan lupa untuk
menjalankan ibadah yang lainnya berupa sholat lima waktu.
Beliau juga menjelaskan bahwa di Lembaga Pemasyarakatan Wanita
Tanjung Gusta terdapat kegiatan keterampilan berupa salon,
jahit-menjahit dan masak-memasak. Kegiatan keterampilan ini
ditujukan untuk bekal bagi para napi setelah selesai dalam
menjalani masa hukuman nanti.
Pada kesempatan
tersebut ketua alumni, Hardi Mulyono, SE, juga memberikan kata
sambutan yang cukup singkat bagi para napi. Beliau hanya
berpesan setelah lepas dari masa hukuman jangan pernah datang
lagi ke Lapas. Hardi Mulyono yang juga anggota DPR ternyata
orang yang sangat dikenal di Lapas Tanjung Gusta Medan karena
kedekatannya dengan beberapa komponen dan lembaga masyarakat
termasuk Lapas Tanjung Gusta.
Presiden Direktur
PT. Deltomed (Jakarta), Nyoto Darwoyo juga memberikan kata
sambutannya pada acara buka puasa bersama tersebut. Beliau
sengaja datang ke Lapas Tanjung Gusta sesuai dengan undangan
Rektor UMN Al-Washliyah. Beliau juga menjanjikan suatu peluang
bisnis untuk Lapas , yaitu berupa usaha pembuatan jamu yang
insyaallah akan sama-sama mereka pelajari bagaimana bentuk
realisasinya, dan beliau juga memberikan bingkisan untuk
anggota Lapas berupa produk Antangin JRG Wes sewes sewes
bables angine........ Kerjasama dengan UMN Al-Washliyah juga
akan dibicarakan lebih lanjut, karena UMN Al-Washliyah
memiliki Fakultas MIPA khususnya jurusan Farmasi, terutama
dalam bidang obat-obatan.
Acara berikutnya
dilanjutkan dengan kata sambutan dari Rektor UMN Al-Washliyah
yang disampaikan oleh Ibu Hj. Sri Sulistyawati SH, M.Si, Ph.D.
Beliau menyambut dengan tangan terbuka bentuk kerjasama yang
nantinya akan dibuat oleh PT. Deltomed dengan UMN Al-Washliyah.
Beliau juga sangat bergembira bisa berbaur dengan binaan Lapas
Tanjung Gusta, berbuka puasa bersama saling merasakan
bagaimana kehidupan di Lapas. Pada kesempatan tersebut Rektor
UMN juga memberikan bingkisan yang diberikan kepada kepala
Lapas.
Sebelum buka puasa
bersama dimulai, acara diisi ceramah singkat oleh Uztazah Hj.
Marijah Dalimunthe, yang juga adalah Dosen dari Universitas
Muslim Nusantara. Beliau memberikan sedikit pencerahan kepada
para napi tentang apa dan bagaimana cara bertaubat. Taubat
sebenar-benarnya taubat (taubatan nasuuha), dan bukan taubat
sekedar taubat atau taubat yang dilakukan sekarang tapi besok
diulangi kembali perbuatan jahatnya. Marijah Dalimunthe juga
menjelaskan bagaimana caranya memanfaatkan wadah puasa
sehingga menjadikan kita bersyukur atas rezki yang diberikan
oleh Allah SWT. Salah satunya adalah dengan cara membandingkan
antara laparnya orang yang berpuasa dengan laparnya orang yang
benar-benar tidak punya sesuatau yang harus dimakan (laparnya
orang miskin). Dengan demikian bagi kita yang berpuasa karena
ibadah akan merasakan nikmatnya menjadi orang yang punya
sesuatu yang bisa dimakan tetapi karena ibadah hal tersebut
tidak dilaksanakan, dan sungguh jauh berbeda dengan
mereka-mereka yang memang tidak punya sesuatu untuk dimakan.
Setelah selesai
acara ceramah, rombongan dan para napi melakukan acara buka
puasa bersama yang dilakukan di halaman tengah Lapas dan
langsung melaksanakan sholat maghrib bersama, dan acara
diakhiri dengan makan bersama dengan para napi. |